Oleh: efraimmasarrang | Agustus 12, 2011

Cerita Dari Temanku K` Madi tentang Anak-Anak Coops XVI

Mentari terbit diufuk timur,

Menandakan hari telah berganti,

Angin timur berhembus masuk memecah pagi,

Sunyi senyap sirna tatkala kumendengar suara kesibukan dari luar ruangan. Ini adalah kesibukan para anak Coops yang bersiap-siap menuju kantor. Andika, Velahyati dan jeany kini bersiap mengumpulkan tenaga, memusatkan fikiran tuk menuju HROD sementara itu Iqra dan Relin telah menunggu jemputan selanjutnya.

Berikutnya giliran Dewa dan Susan yang menuju PS dan gelombang terakhir adalah Hartati, Cha, Dilla, Bagus, Anjun, Mili dan aku. Ini adalah kegiatan kami di tiap pagi dan akan selalu seperti ini hingga bulan habis dimakan waktu.

Ku Ingat bagaimana aku menawarkan diri menjadi calon Coopers,

Pada kaki yang rapuh, hari pertamaku di semester itu.  Dengan tangan kurus ini aku menuliskan kisahku di selembar kertas. Berisi Nama dan biodata yg lain, orang-orang menyebutnya CV.

Kaki ini membawaku ke Lat.2 Facultas Teknik – UH.

Menyusuri Lorong kelabu, tak satupun orang kala itu.

Tanganku membuka sebuah pintu,

Tiba – tiba Seorang wanita menghampiriku, Rani namanya…

Kuserahkan kisah ini dengan senyum termanisku kepadanya

walau ku tahu itu hanya sia-sia belaka,

Tapi hati ini tetap berharap kebaikan datang menghampiri.

Entah apa yang merasukiku,

Entah apa yang ada dikepalaku dan

Entah apa pula sebenarnya yang saya cari.

Aku tak tahu jiwa ini menginginkan apa ?.

Mengapa diri ini harus ikut serta dalam seleksi Coops….

Tuhan, jalan apa yang kau pilihkan padaaku…?

Sudah 5 tahun aku berkelana dikampus bodoh ini,

Berusaha Mencari mozaik-mozaik kehidupanku, entah dimana Tuhan meletakkannya.

Diri ini ibarat puzzle kehidupan yang mana tiap potongnya harus aku cari, setiap serpihan harus aku temukan hingga aku tahu apa arti dari keberadaanku dibumi ini.

170 sks aku tamatkan dalam waktu tiga setengah tahun, Ini semua karna rasa iriku dan rasa gengsi seorang pria yang tak ingin kalah dari seorang wanita (Awaliah Wulan namanya). Targetku adalah mengalahkannya, disetiap ujian bukan nilai A  yang kucari tapi bagaimana caranya agar nilaiku melebihi dirinya. Jika ia mengambil 22 sks maka diri ini akan mengambil 24 sks dan apabila ia mengambil 24 sks maka diri ini akan diceramahi, ditegur, dimarahi, dicaci, dimaki serta ditertawai karna mengambil 26 sks yang pada akhirnya harus menghilangkan 4 sks atau 2 sks.

Disetiap hasil ujian aku mampu menempatkan namaku diatas namaya karna ku tak sudi melihat namaku dibawahnnya walaupun pada akhirnya aku kalah jua darinya, ia lulus lebih cepat dariku sedang diri ini masih berada di tanah soroako dan masih berstatus mahasiswa walau kuliahku telah habis sejak 2 tahun silam.

Masih hangat diingatanku,

Diruang tunggu kantor Inco,

Ku duduk terpaku dengan tangan yang dingin,

Jantung ini berdetak lebih kencang dari biasanya,

Seakan kematian itu menghampiri.

Kali ini kulihat seorang wanita yang berusaha menyelimuti ketegangannya dengan sebuah senyuman, canda gurau dan beberapa kisah yang menggelitik perut membuatku lupa dengan apa yang akan aku kerjakan dan apa yang akan kuhadapi di tempat itu.

Pada akhirnya kutahu nama dari gadis itu, “Andi Triska – cha – Muliana”. Wanita dengan ambisi besar ingin menjadi seorang “wanita karir” walau pada dasarnya dia belum mengerti makna dari wanita karir itu tapi aku salut dengan semangatnya yang membara. Dia juga adalah seorang penggila sepatu yang luar biasa walau aku tak paham jenis sepatu apa yang ia senangi. Namun satu hal yang aku tak mengerti, mengapa ia selalu menoleh kepadaku tatkala ia melihat pria yang menurutnya tampan…?

Ia adalah sosok wanita yang ceria ….

Pagi itu kami berkumpul di halte bus bersama para kontraktor and beberapa karyawan inco, kumelihat wajah yang telah lama ku tak pernah lihat, wajah yang hilang beberapa waktu lalu, wajah seorang iqra aswad dan sang wanita karir Andi Triska namun kini wajah itu Nampak berbeda, senyum diwajahnya melekat erat tak kunjung padam serasa penderitaan telah hilang terhapus bahagia.

Wanita karir ini membawa perubahan yang luar biasa ia mampu merasuki dan menghipnotis teman singkarak 4-nya, mereka terpengaruh rayuan gombal dari sang wanita karir, susan , dewa dan jeany adalah korban nyata dari kebodohan itu.

Sebuah handphone touch screen keluar dari tiap saku mereka, berwarna hitam kecuali milik si wanita karir yang berwarna putih. Handphone itu tak henti-hentinya mereka pegang dan tak jemu-jemunya mereka memandanginya, wajah mereka laksana mawar yang baru mekar.

——————————

Soroako, ku tak pernah berharap datang tuk kedua kalinya

Namun nasib berkata lain, ku kembali  tapi dengan amanah yang berbeda…

Status Coops melekat di dada, selaksa kebahagian datang bersemayam di kalbu,

Entah bagaimana menggambarkan kebahagian dari senyum yang tersirat…

Tak dapat kupercaya pria seperti saya, pria yang tak memiliki apa-apa, pria yang tak punya sesuatu yang dapat dibanggakan bisa ikut serta dalam episode kali ini. Rasa syukur tak terkira memenuhi alam raya ini.

Hari itu sabtu, 19 Maret 2011 aku catat nama mereka sesuai dengan abjad dibuku harianku agar aku dapat melihatnya, membacanya dan berusaha melafaskan nama-nama mereka dan sesekali aku menoleh ke jendela sambil membayangkan raut wajah dari tiap nama-nama itu. Nama dari orang-orang yang terpilih dan dianugerahi bakat yang luar biasa, kecerdasan yang melimpah serta ego yang rupawan, merekalah yang menemaniku tuk melalui hari demi hari di tempat ini. Hanya satu wajah yang selalu hadir membayangi, hanya satu wajah yang slalu datang disetiap mimpiku dan hanya satu wajah yang slalu menjadi pengobat rindu namun aku belum tahu siapakah namannya ?

 

 

Nur Awaliah Yusran,

Nama inilah yang aku tulis dalam memori pikiranku setelah andi triska, dia seorang wanita yang berkrakter ke-ibuan, smart, penuh cinta kasih dan peduli terhadap  kami namun sayang ia tidak cukup tinggi tapi itu bukanlah sebuah masalah dan dibelakangan aku tahu bahwa IPK-nya 3,7 . suatu bukti jikalau dia adalah wanita yang cerdas…

Aku masih ingat kala itu ia terbangun dari tidurnya yang lelap, bangkit dari kelelahan yang menjalar diseluruh tubuhnya hanya untuk melakukan satu hal, sesuatu yang bermakna bagi kami, sesuatu yang teramat penting bagiku, ia akan membuatkan nasi goreng, tiada lain dan tak bukan hanya untuk sarapan kami.

Dan satu hal yang tak akan pernah kulupa dari dirinya “pedis ki kak ?”…

Masakan awa tak diragukan lagi, ia tahu betul komposisi dari tiap masakan itu tampa harus mengukurnya, sungguh ia benar-benar piawai dalam urusan masak aku dibuat takjub olehnya.

Berita gembira hinggap di atap sumba 4, sebuah kabar yang dinanti oleh ratusan orang kini tiba ketelingaku, sungguh burung dara telah datang membawa kabar bahagia itu menyejukkan hati sang ibunda tersayang Nur awaliah Yusran dan adinda tersayang Masarrang Efraim, beasiswa yang di nanti-nanti itu kini ia raih juga dan jangan kau Tanya padaku berapa besar jumlahnya karna tangan ini tak mampu tuk menghitungnya, jangan kau Tanya berapa besar nominalnya karna digitnya tak mampu terdeteksi oleh mata namun tak setetes pun yang singgah di tenggorokanku ….

Hari itu ia pulang ke rumah lamanya , rumah kediaman orang tuanya membawa kabar gembira tuk ibunda tersayang. Patung Ayam dengan keluarganya berdiri tegak perkasa menjemput kedatangan sang penerima beasiswa , seribu ucapan selamat dari sang ayam tertuju padanya berharap si ayam dan keluarganya dipindahkan ke depan monument mandala.

Ia telah pulang dari perjalanan panjang, wajahnya yang teduh dan senyumnya yang lebar tatkala ia berada di depan pintu rumah masih melekat menandakan kegembiraan tetap terasa pada dirinya. Jilbabnya telah berubah, ia kini terlihat lebih stylis dan lebih anggun. Entah dimana ia belajar menyusun kain-kain itu dan membentuk suatu pola jilbab yang sesuai dengan wajahnya, sungguh ia kini lebih mirip seorang wanita yang aku sebut “Wanita Berkerudung Sorban”.

————————————————-

 

Dewanti Chucu Chicha

Entah bagaimana asal muasal nama ini ?

Mengapa mesti cucu ?

Dan mengapa mesti chica ?

Hanya dia yang tahu dan ia bangga dengan nama ini.

Dewa adalah orang ketiga yang mengisi deretan nama di dalam memori pikiranku,

Ia seorang wanita yang teduh, lugu, sopan dan sedikit humoris namun agak aneh.

Wajahnya yang polos menggambarkan begitu banyak cinta kasih yang ia miliki untuk orang2 yang dia cintai, senyumnya yang manis memekarkan bunga-bunga yang layu di taman hati dan tutur katanya menyirami perasaan yang tandus akan kesejukan hingga kupu-kupu jiwa tak kuasa menahan harumnya kasih…

13 Mei 2011,

Tanggal ini kucatat dalam buku harianku agar aku tak lupa akan hari itu, Hari yang begitu berarti, tanggal dimana ia menangis tuk pertama kalinya, tanggal dimana ia dilahirkan.

Ku berkeliling kota soroako sore itu mencari sesuatu yang aku pun tak tahu apa yang aku cari, aku hanya ingin menemukan sesuatu untuk hari terpenting bagi seorang Dewanti. Ku terus menyusuri jalan demi jalan sambil melirik kiri-kanan berharap menemukan sesuatu yang special tapi tak satu pun yang meggugah jiwa.

Letih kini tubuh ini, angin malam pun telah masuk ke dada. Hari ini cukup sampai disini dan akan kulanjutkan pencarian itu esok hari. Selama seminggu diri ini berkeliling tak jelas, tak tahu arah dan selama seminggu itu pula kutunggangi SupraX menuju pasar magani – pasar F – wondula and kembali ke rumah namun tak membuahkan hasil.

Tiga hari menjelang hari H, ku belum menemukan sesuatu buat dewa. Ku peras kepala ini tuk berfikir, dalam hati kecewa marajut “kota apakah ini, tak satu pun yang aku temukan”. Aku mampir di suatu warung makan dipersimpangan jalan, seorang pria bertubuh besar dengan baju kerja melekat di badannya bertuliskan “United Tractors” duduk disampingku. Seyum terlempar dari wajahnya dan kubalas dengan senyum terbaikku, ia memperkenalkan namanya dan ia lanjut dengan sebuah kisah perjuangan bagaimana ia bisa sampai di tempat ini. Diakhir kisah ia bertanya padaku : ”dari mana dek ?”, spontan ku teringat akan masalahku, maka aku menjawab pertanyaan bapak itu dengan sebuah pertanyaan juga : ” Bapak tahu ndak tempat beli kado ?”, kini bapak itu memberikan pertanyaan lagi : “ kado buat apa ?“, maka kuceritakan masalahku padanya. Bapak itu menoleh keluar, kemudian membalikkan wajahnya padaku dan berkata : ” kalau tempat jualan kado sih saya ndak tahu tapi klo tepat pesan kue buat acara ultah-an mungkin saya tahu, cuman satu hal jangan banyangkan kue disini sama dengan yang di makassar“, tampa pikir panjang lagi aku minta alamatnya dan setelah makan diwarung ku pacu si Supra-X namun yang mebuatku sedikit tersenyum bahwa AKU DITRAKTIR, klo tau begini saya makan banyak tadi !

“salah lagi…..salah lagi, kali ini ndak salah kok”.

Hari itu hampir tiba, milad dari Dewanti cucu chica. Handphoneku berdering, ternyata dari toko kue yang mengkonfirmasi kapan kuenya dapat diambil. Ku ceritakan kepada pasukan sumba dan merekalah yang mengatur konsepnya, terserah mereka yang penting anganku telah kucapai. Malam itu adalah malam dimana dewa menjadi kelinci percobaan dari ramuan triska, seluruh sumba terbangun, seluruh sumba tersenyum dan seluruh sumba mengucap selamat buat dia si Dewanti cucu chica….

Ia begitu polos sakin polosnya hal ini membawa bencana baginya, dibully adalah sebutan yang pantas untuk bencana itu, hingga suatu saat air mata itu tumpah jua membasahi pipinya yang elok, hati ini haru melihatnya seakan benteng kesabaran hancur oleh ombak kemarahan, sejenak kutenangkan pikiran sebuah kalimat terlintas di hati seraya berkata “kesabaran itu tak bertepi…..”. Kalimat inilah yang kukatakan padanya kala itu.

Dan Satu hal yang aku ingat dari dirinya “LOE – GUE – END

Jum’at , 1 july 2011 dengan kemalasan melanda batin kuniatkan diriku tuk pulang ke tempat teduhnya hati, bersama anjun kulewati sepinya jalan, angin dingin yang berhembus menusuk dada  tak jua reda, sepeda motor kupacu lebih cepat berharap penderitaan ini segera sirna.

Matahari telah hampir tidur berharap kesejukan datang melanda, dua orang wanita telah datang dengan kereta CT berwarna silver, kini sosok seorang wanita teduh itu menampakkan wajahnya, yah memang benar dia adalah dewa dan teman kamarnya. Dia laksana hero yang membawa kedamaian dalam perang badar yang bergejolak dijiwa sungguh kedamaian itu datang merasuk ke jiwa.

Tuhan mengingingkan kami menikmati keindahan malam. Hari itu dewa lupa keberadaan kunci rumah, Ia tak ingat dimana menaruh kunci itu. Kami tak dapat berbuat banyak, pintu rumah tak akan terbuka dengan sendirinnya karena kasian melihat kondisi kami maka kami pasrahkan tuk menunggu… menunggu sang pemegang kunci datang.

Kami duduk dibibir jalan sambil bercanda gurau, melepas resah didada dengan penuh tawa hingga rembulan iri pada kami.

Namun sungguh ku telah lalai, niatku menggapai senyumnya tapi air mata yang kudapat , sungguh ini adalah kesalahanku, kesalahan yang tak pernah aku sangka, kesalahan yang tak pernah aku duga. Malam itu ku membuat senyum manisnya sirna dari wajahnya, ini membuatku harus bersabar tuk melihat senyum itu lagi atau boleh jadi kutak kan pernah melihatnya lagi.

Entah bagaimana harus menebus kesalahan ini, entah bagaimana lagi mengobati hatinya yang tlah terluka… Kuhanya diam menutup rumah kalbuku rapat-rapat menunggu datangnya belas-kasih darinya. Namun belas kasih itu tak kunjung tiba.

Aku tak tahu harus bagaimana bersikap jika bertemu dengannya, ku ingin menyapanya tapi aku takut ia akan terluka oleh kata-kata yang keluar dari mulut ini, jadi ku batalkan niatku tuk menyapanya. Ku hanya diam tertunduk jika dihadapannya, aku menyahut jika ia sapa, menjawab jika ia bertanya, bergerak jika ia pinta selebihnya aku diam seribu bahasa berusaha bersikap hati-hati jangan sampai kulakukan hal yang buruk lagi.

Ku tak lagi menyapanya seperti dulu kala, walau berpapasan mulutku diam dalam kesalahan hanya mata ini yang berusaha tuk menyapa namun ia hanya menunduk dalam kemarahannya padaku. Perasaan bersalah ini menghantuiku, tak kunjung reda walau tuk sesaat dan hati ini malu tuk bertemu muka. Ku putuskan untuk tak tinggal di tempat teduhnya jiwa berharap kebencian akan sirna seiring hilangnya aku dan apabila waktuku telah habis ku berharap ia akan memaafkanku hingga aku dapat pulang dengan hati yang tenang.

Dewanti, ketika kau membaca tulisan ini seribu ucapan maaf tersirat dari kata demi kata. Setiap kalimat adalah hembusan maaf dari ku yang tiap hari aku panjatkan agar kiranya engkau mendengar jeritan hati yang berlumur dosa.

————————————

Iqra Aswad

Iqra = bacalah…

Sebuah ayat dalam Kitab Suci Al Qur’an yang diambil pada surah “Al Alaq” yang mencerminkan kepandaian, ke uletan, semangat yang tinggi, ilmu pengetahuan dan sebuah hidayah. Betapa luar biasa dirinya yang bisa menyandang nama ini.

“iqra” nama yang aku ingat setelah Dewanti, karakternya yang lucu disertai tingkahnya yang kocak membuatku lebih akrab tapi Jangan kau bayangkan orang ini seperti keagungan namanya karna iqra bukanlah orang yang berjenggot,  memakai kopiah, memakai gamis, isbal dan tasbih ditangannya tapi iqra adalah pria yang sederhana, cuek dan wajahnya lebih mirip seorang Enstein jika ia mengenakan kacamatanya.

Entah bagaimana pola pikir pria ini aku juga terkadang dibuatnya kebingungan, Ia hanya memiliki  2 kemeja, 2 baju kaos, 2 celana panjang, 1 celana pendek, 2 underwears dan sepasang sepatu. Bagaimana ia mengatur pakaiannya dalam waktu yang lama ataukah mungkin ia telah membuatkan jadwal ? ahhhh.. itu urusan iqra.

Walaupun ia kocak tidak berarti ia tidak bisa marah, ia pernah marah padaku karna aku menertawainya. Saat itu iqra sedang focus dengan laptopnya entah apa yang ia kerjakan tiba-tiba Tom Raymond (konsultan IT) datang menghampirinya, sejenak iqra bangun dari lamunannya, segala yang ada dikepalanya bersih tersapu oleh kekagetan. Mr. Raymond menghujaninya dengan bahasa yang ia tak mengerti, iqra hanya terdiam, menganga, ia tak mampu berkata-kata, dia hanya berusaha untuk mengerti apa yang ia dengar…. Semakin ia paksakan semakin ia tak mengerti , ia hanya mampu mengangguk dan berkata “yah” dan “yes”.

Wajahnya yang kebingungan membentuk pola keanehan yang memaksaku tak dapat menahan tawa hingga tawa itu keluar diiringi tawa dari Mr. Raymond, aku tak pernah tahu klo ini akan membuatnya marah tapi untung ia bukanlah seorang yang senang memendam kemarahannya tapi ia orang yang mudah lupa akan sesuatu termasuk lupa akan marahnya padaku… ( maaf bro).

Diam-diam iqra memiliki hoby photografi, rasa itu ia pendam dalam-dalam, ia kubur dalam sanubarinnya karna ia tahu hasrat itu tak kan tersampaikan namun nasib berkata lain kini ia mampu membeli sebuah kamera, kamera yang ia idam-idamkan sejak dulu dan kamera yang ia banggakan sebagai jerih payah-nya sendiri/hasil keringatnya sendiri dan kamera Nikon D3100 menjadi tambatan hatinya. “aku hanya ingin memotret benda mati, seperti pemandangan dan hewan”, kata iqra padaku. Iqra mengelompokkan pemandangan dan hewan dalam satu golongan yaitu benda mati, suatu teori yang sacral dan luar biasa hingga Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet yang bereduksi di pikiran iqra. Energi mekanik dari pola pikir iqra tak terbendung oleh friksi, Energi potensial pada diri iqra tak terpengaruh oleh tetapan gaya, bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi hukum kekekalan dari teory seorang Iqra aswad.

 

Iqra datang dengan potongan rambut yang baru, ia begitu gagah jika engkau bandingkan dengan iqra yang sebelumnya maka kau tak akan mengenalinya. Wajahnya mempesona menarik hati para wanita, sekilas ia begitu beribawah namun wibawah itu akan sirna tatkala tawa melandanya, tawanya yang menggetarkan telinga merusak segala pesona yang ia bawa namun dibalik itu semua ia adalah pria yang baik.

Iqra duduk sambil memandang ke bawah entah apa yang ia pikir, tangannya memegang tas kusut itu melindungi sepatu barunya dari guyatan debu, aku melihat kata “SPECS” yang melekat pada sepatu itu, senyum manis terukir di wajahku akhirnya anak ini mengganti sepatu bututnya.

Aku tidak ingin melanjutkan kisah tentang iqra karna aku takut kisah ini tak ada ujungnya.

Maka kisah iqra cukup sampai disini. :p

IQRA itu cerdas namun diselimuti kebodohan…

Susanti Tulak

Susanti Tulak adalah teman sekamar dewa, kau akan sulit melihat wajahnya laksana gerhana yang tak selalu datang disaat kau inginkan. Ketika angin sore berhembus dan matahari ada diufuk barat ia akan kembali ke singgasananya melepas seluruh kelelahan yang menyelimuti raga. Lampu kamar akan padam serta merta hening yang terdengar ditelinga, sesekali lagu Sheila on 7 keluar dari kamar itu.

Dia seorang wanita kristiani yang taat, Tuhan bersemayam dihatinya menuntun kearah yang ia inginkan, di tangannya tak akan pernah jauh dari kitab sucinya dan Ia akan menuliskan firman Tuhan_nya itu di buku harian, ketika hendak memulai makan ia akan menutup kedua mata dan menundukkan kepalanya dalam hati ia berdoa mengucap syukur kepada sang Pencipta dan aku belajar dari dirinya bagaimana bersyukur itu.

Matanya begitu berat tuk terbuka, Susan masih asik terbuai dalam mimpi-mimpi indahnya dan Ia akan tebangun oleh alarm teman kamarnya, segala mimpi sirna seketika membawanya kembali ke alam nyata. Entah mengapa wanita ini sangat mudah untuk tidur, dimana pun ia meletakkan kepala seketika kelopak mata akan tertutup dan Ia akan kembali berada di dunia khayalannya, sungguh tak sedikitpun masalah melekat dipikirannya.

Awa sedang asik meracik sebuah masakan dengan konsep yang ada dalam pikirannya, awa menyusunnya serapi mungkin hingga tangannya mengerti mana yang mesti ia kerjakan lebih dahulu, susan datang menghampiri walau sekedar bertanya, segera mungkin ia mengambil beberapa sayuran dan membawanya ke meja makan. Ia akan memotog wortel, mengiris sawi atau mengelolah sayur-sayuran yang lain karna hanya inilah yang dapat ia kerjakan, susan tidaklah pandai dalam urusan dapur tapi ia senang dalam urusan pasar,  tangannya yang besar tak lihai memainkan wajan, ia hanya tahu mengelolah telur dan telur pula yang akan ia buat sebagai bekal di kantor.

Aku melihatnya di tempat ini dan aku mengenalnya ditempat ini pula walau wajahnya begitu dekat denganku tapi mulut ini tak mampu mengeluarkan sepatah kata sungguh aku tak seakrab dengan penduduk sumba yang lain (ex. Singkarak) , ada tembok besar yang menjulang tinggi membatasiku yang ia bangun dengan pondasi kebencian dan dindingnya ia dirikan dengan sejuta emosi,  dinding itu begitu kokoh berdiri, mendekat pun ku tak mampu tak ada daya walau segala upaya tlah kukerahkan.

Sesekali aku ingin mengetuk hanya tuk mengucap sejuta maaf  tapi ia tak menaruh pintu disana, ada begitu banyak ranjau yang ia tanam di sekitar hatinya hingga aku tak berani melangkahkan kaki walau hanya sejengkal karna seketika waktu ku salah melangkah ranjau itu akan meledak dan menelanku hingga tamat, tak ada yang dapat kulakukan ku hanya mampu berdiri di ujung batas wilayah hati sambil menatap tembok besarnya itu seraya berkata “akankah tembok itu runtuh ?” dan berharap ada jalan lain yang dapat membawaku bertemu dengan dirinya walau hanya sekedar tuk mengucapkan maaf.

Malaikat kecil selalu melekat disampingnya dan selalu menyertainya dimana pun ia berada. Saat semua telah terjadi, saat tak ada ramuan tuk mengobat hati malaikat kecil ini slalu datang memberikan kesejukan, ia akan bercerita tentang bintang yang hanya bisa kau lihat dari kejauhan namun tak dapat kau genggam, ditelingaku ia berbisik “lihatlah bintang itu, ia begitu indah tuk dipandang nimatilah kemilaunya, rasakan kasih yang ia pancarkan walau kau tak dapat menaruhnya ditelapak tanganmu tapi ia akan selalu ada diatas sana, tatkala kau ingin melihatnya kau hanya cukup memandang ke langit tapi jangan kau cari ia saat langit berwarna biru dan jangan pula kau mencarinya saat kilat meyambar karna kau tidak akan menemukannya”. Padanyalah kuceritakan seluruh keluh kesahku dan ia akan memberikan semangat yang membara disetiap ujian yang datang walau aku tak mengerti bagaimana tuk bersikap.

Di ruang makan itu Ia duduk dihadapanku, tak sedikit pun kata untukku yang keluar dari mulutnya. Matanya tak menoleh padaku, selaksa kebencian yang ia tanam kini telah tumbuh subur dan berakar dihatinya menutup segala pintu maaf untukku. Senyumnya yang elok tak dapat lagi ku nikmati, kawat gigi yang menghiasi senyum itu kini tak dapat lagi ku lihat. Bayang- bayangku hanya selalu datang menghantuinya, rasa resah seketika timbul di dada ketika sosok diriku berada di sekitarnya. Ia hanya mampu mengungkapkan lewat bahasa tubuh yang begitu jelas terbaca oleh mata seakan hujan yang tak diharapkan tuk jatuh membasahi bumi. Aku tak pernah ingin menanam dendam dihati kalian yang pada akhirnya berbuah kebencian, jikalau aku dapat menebangnya maka akan kutebang pohon itu, kucabuti akar-akarnya hingga tak ada yang tersisah namun tak sedikit pun aku mampu tuk melakukannya.

Satu hal yang paling kuingat dari wanita ini : “kaos kaki biru tipis yang ia belikan untukku”.

Hati wanita adalah lautan kasih tapi terkadang wanita itu tak berperasaan….

 

Andi Juniawan

Aku terbangun dari tempat duduk yang empuk, kulihat disebelah kiriku andika masih tidur terlelap dan kupalingkan wajahku kesisi sebelah kanan, 2 orang wanita masih tertidur pulas dengan bantal kecilnya di tangan, salah seorang dari mereka menutupi tubuhnya dengan selimut yang hangat dan wanita yang satu masih tetap nyaman dengan jaket pink yang melekat dibadannya. Entah aku benar atau salah tapi aku melihatnya sedang tertidur.

Bus ini tetap melaju menyusuri kota malili dalam hatiku bertanya kapankah bus ini berhenti? Badan ini tak kuat untuk duduk lebih dari 12 jam perjalanan, ingin rasanya ku teriak “pak, hentikan bus ini…” tapi ku urunkan niat itu karna rasa malu mengalahkan rasa sakit ini.

Jum’at , 18 Maret 2011

Akhirnya ku menginjakkan kakiku di tanah soroako untuk yang kedua kalinya, rasa haru, gembira, bangga bercampur menjadi satu entah bagaimana ku menjelaskannya. Inilah kami Coops OneVale, Coops yang menjadi tumbal demi kelancaran proyek karna kami tak tahu bahwa kami akan dijadikan pekerja rodi, bekerja dibawah tekanan, bekerja dalam over time dan yang pastinya dibayar murah !!!, inilah kesalahanku karna ku bangga dalam kebodohan.

Kami bertujuh ditempatkan dirumah kumuh yang tak berpenghuni tepatnya di singkarak 3, terdapat 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Andika, bagus dan iqra menempati kamar terluas disudut kiri. Relin di kamar sebelah kanan. Anjun dan aku berada di kamar tepat depan toilet. Efraim lebih memilih tidur di sofa bersama adik-adiknya. Dari sinilah ku mengenal anjun ( andi Juniawan ), satu kamar dengannya membuatku tahu bagaimana karakter anak yang satu ini.

Dingin melanda, sekujur tubuhku tertutup selimut tebal begitu pula dengan anjun. Diluar begitu sepi hanya suara jangkrik yang terdengar mendendangkan nyanyian musical classic mengingatkanku akan lagu “sound of music”,  anjun menyebut namaku, Suaranya yang bass memecah sunyi, sejenak ku terdiam berusaha menemukan keeping-keping khayalanku namun hanya wajah anjun yang kutemukan seketika itu ku menjawabnya. Ia mulai bercerita tentang kehidupannya, tentang kenangan terindah dimasa lampau yang masih tersimpan rapi dalam benaknya, cerita yang ingin ia luapkan namun kepada siapa dan akulah pilihan hatinya tempat ia menaruh cerita indahnya itu.

Ia adalah anak bungsu dari keluarganya, Tuhan menciptakannya sebagai penutup dari para saudaranya dan membuatnya paham akan arti kehidupan. Ayahnya yang berwatak agak keras yang mengajarkan anak-anaknya tuk belajar mandiri dan ibunya yang lemah lembut mengajarkan bagaimana cara mencintai dengan tulus dan menyayangi dengan ikhlas. Kuteringat ketika ia bercerita tentang bagaimana ayahnya mengajarnya berenang, ayahnya membawanya ke pantai, memberikan informasi mengenai posisi kaki, gerak tubuh dan yang terpenting adalah kemau-an.

Anjun dipegang oleh ayahnya, ini pertama kalinya ia merasakan ombak yang mendorong tubuhnya ia merasakan dinginnya air yang masuk ke tiap pori-pori tubuh. Ia hentakkan kaki tak ada dasar yang ia rasakan, hati kecilnya berkata “Tuhan, jika engkau tak memberi kemudahan maka sungguh laut-Mu akan menenggelamkanku, mudahkanlah tubuhku tuk bercengkrama dengan laut-Mu agar aku bisa bersyukur akan segala nikmat yang kau berikan ”, seketika ketakutan mengerumuni kakinya, merasuk ke jiwa dan menggagu pikirannya hanya satu hal yang ia ingat dari ayahnya kala itu, dipikirannya terasa sangat jelas terdengar : “goyangkan kakimu, ikuti irama ombaknya, jangan kau paksa dan jangan kau lawan bergeraklah selaras dengan dirinya”.

Anjun masih tetap melakukan apa yang ia ingat , ia masih dapat mearasakan genggaman ayahnya namun itu tidaklah lama karna ayahnya melepaskan tangan itu dari anaknya dan membiarkan anjun mengadu nasib dengan laut. Anjun berusah bertahan hidup, ia kerahkan seluruh tenaga tuk dapat membuat kepalanya tetap diatas. Ia hentakkan kakinya sekuat tenaga namun laut seakan menariknya kebawah, ia lakukan segala cara namun letih telah datang. Kaki dan tangannya tak mampu berbuat apa-apa, ia pasrahkan dirinya ditelan oleh laut. Ayahnya menarik anak bungsunya itu dan berkata “jangan cengeng, kau itu seorang laki-laki, jangan menyerah begitu mudah. Laut ini tak akan tunduk jika kau tak menaklukkannya.”

Hartati memanggil anjun dari luar ruangan, suaranya terasa jelas ditelingaku laksana adzan shubuh yang sedang berkumandang membangunkan aku dari kematian yang sesaat. Anjun terbangun dan mengetuk pintu kamarku dalam sepinya subuh ia meyebut namaku “ kak bangun, ayo sholat shubuh “, tubuhku terasa berat tuk diangkat namun harus kupaksakan karna ini adalah panggilan Ilahi. Ku sapuh wajah ini dengan air wudhu sambil memohon ridho dari yang Kuasa, kulangkahkan kaki ku menuju ruang sholat, kulihat anjun melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat sebelum shubuh dan tati duduk di sofa dengan pandangan yang sayu mengarah ke jendela kamar dewa dan susan, matanya tak berkedip, tubuhnya tak bergerak entah apa yang datang dipikirannya.

Sholat shubuh kami tunaikan, dirakaat pertama anjun membaca Al Fatiha kemudian ia melanjutkan membaca Surah Abasa. Suaranya pelan, agak bass dan masih serak, ia melantungkan ayat suci itu dengan penuh kenikmatan membuatku terbuai dalam hafalannya. “faizaa ja athi zak’kha…” ayat ini membuatku memecah tangis, tak dapat ku tahan lagi, air mata jatuh membasahi pipi. Teringat segala dosa yang pernah ku perbuat, jikalau Tuhan mengizabku hari ini juga pastilah nerakalah tempatku bermuara.

Hampir semua kesenangan anjun sama denganku, dia senang berenang dan badminton. Ia adalah patnerku berolah raga akhir-akhir ini, tiap sore kami akan pulang cepat dari kantor hanya untuk dapat berenang di pantai ide dan malamnya kami lanjutkan dengan play badminton. Namun ada satu hal yang sedikit berbeda, ia hebat bermain voli tapi aku tidak. Aku senang bermain bola tapi ia tidak.

—————————————–

Hartati

Pertama kalinya aku menemukan nama seorang wanita yang apabila terjadi pemenggalan kata hanya terdapat 3 bagian “ har – ta – ti “, dari namanya kau akan berfikir bahwa betapa simple wanita ini. Tapi itu tidaklah benar, nama Hartati yang simple sungguh tidak mencerminkan orangnya, dia lebih rumit dari yang kukira. Paras wajahnya memancarkan kekejaman yang apabila kau melihatnya sekilas kau akan berfikir dia adalah rengkarnasi dari mak lampir. Paras Wajahnya penuh dengan titipan Rahmat Ilahi, penuh anugrah dari yang Maha Kuasa membentuk suatu barisan titik-titik ibarat bintang yang bercahaya dimalam hari.

Hartati adalah tipikal seorang wanita yang kuat, tidak manja, dewasa, cerewet, agak sedikit terbuka dan pastinya dia menyebut dirinya “laknat”.

Dia selalu mengidamkan pria yang sempurna, indah parasnya, baik body-nya dan yang terpenting adalah pria itu minimal harus berpenghasilan 9 digit. Sungguh apa yang ia cita-citakan tidaklah sesuai dengan kemampuan yang ia punya tapi mengapa ia tak menyadarinya ? malah tingkahnya bertambah parah, narsis_nya makin menjadi-jadi tapi jodoh adalah rasia Tuhan, siapa yang tahu ? boleh jadi Tuhan mengirimkan seseorang yang lebih baik dari itu. Aku hanya seorang teman yang bisa mendoakan semoga ia mendapatkan idamannya itu…amin.

Satu hal yang tak dapat aku lupakan dari dirinya, ketika diri ini dilanda sakit yang menyiksa batin dialah yang  membuatkanku sebuah ramuan ajaib dari jeruk nipis dan kecap, aku tak tahu bagaiman ia mengetahui resep itu, sungguh ramuan itu sangat ampuhh… entah bagaimana berterimah kasih padanya.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kau dustakan ?”

Tati jikalau kau telah membaca tulisanku ini, dibait terakhir adalah permohonan maafku moga engkau memaafkanku, aku hanya ingin kebaikan menghampirimu dan hidayah-Nya terus menyertaimu.

—————————————————

Raelyn Rante

Seorang putra Sulawesi yang berdarah Tator kini turut melengkapi keanggotaan Coops 16 OneVale. Ia berparas tampan, perangainya pendiam dan ia hanya akan bicara pada orang yang telah akrab dengannya. Jangan kau harap ia akan menyapamu terlebih dahulu karna  mulutnya terkunci rapat dalam kebisuan, sedikit pun senyum tak akan ia berikan kecuali jika engkau memintanya.

Singkarak 3 mengurungku dalam kedinginan yang nyata, walau telah 2 minggu di tempat ini namun badanku tak mampu bercengkrama dengan suhu dingin. Rasa dingin terus saja datang tiada henti menghujaniku, masuk kedalam pori-pori kulitku dan menusuk setiap sel sarafku. 16⁰ C sudah cukup untuk membuat tulang-tulangku remuk, tanganku dingin, dan gigiku gemetar, selimut tak mampu menjadi prisai tubuhku. Ku melihat anjun tidur tampa baju, kulitnya kini tak mempan dengan suhu dingin yang meremukkanku dan kebiasaan barunya ini memaksaku pindah ke lain hati atau ke kamar yang lain. Tubuh Raelyn selevel denganku, tubuh yang kedesaan, tubuh yang kampungan dan tubuh yang tak biasa dimanja oleh sejuknya AC maka kuputuskan tuk meninggalkan anjun dan memulai hidup baru bersama realyn.

Realyn akan terbangun saat jam dinding menunjuk pada angka 6 pagi, matanya terbuka seakan ia tahu tampa harus melihat jam. Ia bangkitkan tubuhnya mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi karna ia khawatir seseorang akan mendahuluinya. Bagaimana tidak, kalau boleh saya katakan ia adalah seorang manager traning yang ditempatkan pada barisan depan, pada divisi operasional yang ditangannyalah jadwal training di Gunung Batu dapat tercipta sebagaimana mestinya. Ia curahkan segalanya untuk membentuk suatu deretan kolom dan baris yang kertas A4 pun tak mampu menampungnya, jiwa, raga, pikiran, keringat dan waktu harus ia korbankan. Ketika kami asik meluangkan waktu tuk berlibur maka ia akan asik meluangkan waktu untuk menyusun jadwal, ketika kami pusing harus berbuat apa dihari libur maka ia akan pusing kapan dirinya libur dihari libur.

Kehidupannya di sumba jauh berbeda dengan kehidupannya di singkarak, jika dulu ia dapat pulang lebih awal kini dirinya pulang lebih telat dan jika dulu ia begitu nyantai dalam sepekan tapi kini ia begitu sibuk dalam sepekan. Sungguh dunia begitu mudaah berbalik, kadang diatas – kadang dibawah dan terkadang senang – terkadang duka.

Jujur pria inilah yang paling sulit untuk kutebak, walaupun ia satu kamar denganku tapi terlalu banyak hal yang saya tidak tahu tentaang dirinya, jika malam tiba tiada kata yang terucap dariku selain kata “relin matikan lampunya” dan “relin tutup pintunya” tak ada waktu untuk sesi biskal dan tak ada waktu tuk bersenda-gurau. Karakter realyn jauh berbeda dengan anjun, jikalau anjun senang menceritakan kisah hidupnya maka realyn adalah orang yang jarang bercerita mengenai dirinya. Ia tertutup dan tak mudah tuk mengorek kisah darinya, telah beberapa kali ku coba tuk membuatnya bercerita namun tak satupun yang berhasil. Ada beberapa hal yang aku tahu dari dirinya bahwa ia tipikal pria yang cuek, pikirannya simple ndak rumit, ia juga tidak ingin susah apalagi dibuat susah dan yang paling terpenting adalah realyn itu pelit abisss…..!

Hari itu kesibukan yang tiada terkira melandanya, pagi- pagi buta ia telah berada di kantor menyiapkan segala sesuatunya tuk proses training. Ia bergerak keluar entah apa yang ia urus, sampil menjawab telephon ia menyusuri jalan. Raut wajahnya mencerminkan kesibukan yang tak terkira, telephon ia matikan dan berjalan kembaali ke dalam kantor.

Kini relyn lebih sibuk, ia modar-mandir tampa kejelasan. Wajahnya Nampak lebih pucat, teringat akan sesutau yang ia genggam sebelum duduk di meja kerja namun kini tangannya hampa tampa benda itu. Rasa panic seketika membuat dirinya lupa akan tugasnya sebagai manager trainer, ia tetap mencari benda mungil itu, ia tak ingin kehilangan dengan benda kesayangannya dan benda tumpuan hatinya, NOKIA XPRESS MUSIC.

Andi triska duduk disampingku sambil menatap layar laptopnya ia memainkan jari-jarinya dan larut dalam kesibukan, aku tak berani memperhatikannya karna ia tak suka diperhatikan maka kubiarkan ia bersama ide-ide aneh yang ada dikepalanya dan kulanjutkan saja kegiatanku. Dari kejauhan aku melihat relin dengan wajah yang lebih baik datang menghampiri kami, hatinya kini telah ikhlas menerima kenyataan bahwa belahan jiwa telah meninggalkannya dan menjadi milik orang lain. “HP-ku hilang”, katanya dengan suara yang seduh, sesaat kami tunjukkan wajah yang penuh kekagetan dan kembali tersenyum lebar. Hati ini bahagia mendengar berita itu karna dengan hilangnya hp yang lama secara tidak langsung akan tergantikan dengan hp yang baru. Dengan lihai Andi Triska membuka website, memilihkan jenis handphone yang keren dan menyodorkannya ke pada relyn namun relyn tidak merespon sama skali karna relyn tidak ingin kehilangan bayak uang hanya untuk sebuah handphone. Realyn yang sudah jelas tipikal cowok irit tidak akan tertarik dengan handphone kelas atas, baginya sms dan call sudah cukup.

Andi triska adalah tipikal wanita boros, “apa ada apa habis” beginilah panggilan yang keluar dari mulut iqra dan Realyn adalah tipikal cowok irit, “apa ada apa tamba bayak”.

Nah satu-satunya jalan mengatasi keborosan dari saudari Triska dengan membuat Realyn ada disampingnya yang secara tidak langsung melatih Realyn tuk tidak terlalu pelit.

Ini hanya sebuah saran, klo didengar yah baguslah….

Ndak didengar juga ndak apa-apa kok J.

Tapi nampaknya saran ini tak beguna karna kenyataan berkata lain. Diam – diam relyn menaruh hati kepada susan, sama halnya dengan susan yang jauh dilubuk hati menyimpan perasaan cinta itu. Perasaan itu ia pendam dalam – dalam berharap sang pujaan hati datang menghadapnya tuk mengatakan isi hati yang dilanda asmara. Tapi sungguh susan salah kali ini karna Realyn bukanlah tipe orang yang mudah mengungkapkan isi hatinya kepada orang yang ia cintai, aku tahu Realyn itu tipikal pria pemalu yang lebih memilih tuk memendam perasaanya.

Entah ini benar atau tidak tapi apa yang aku tulis sesuai dengan apa yang aku lihat.

Lidah itu tak bertulang yang begitu mudah membohongi kenyataan.

Tapi makna yang tersirat dari mata seorang realyn tak mampu berbohong.

——————————————————

Nurfadilah Gassing

Wanita  ini mewarisi nama besar ayahnya, siapa pun yang menyebut nama ini seketika itu orang-orang akan mengenalinya dan segala urusannya akan mudah tatkala kata “Gassing” menempel di setiap lembaran administrasi.

Wanita ini pendek, kecil, berkulit putih (jauh lebih putih dariku) dan beruntung dia juga masuk dalam kategori cantik. Dila adalah seorang wanita yang sangat manja, terlalu banyak yang ia tidak suka namun sangat sedikit yang ia suka, wanita seperti ini sangat langkah. Tak semua orang mampu memikat hatinya, tak semua orang dapat menjadi tumpahan curhatan hatinya dan tak semua orang mampu mendapat empatinya karna dia begitu selektif dan sensitive. Jangan sekali-kali membuat wanita yang satu ini marah karna ia tak akan memaafkanmu hingga 7 generasi berikutnya.

 

 

Andika Saputra Amir

Ratulangi medical check up. Sungguh luar biasa pria ini, ia mampu lulus dalam ujian tiup-tipuan hanya dalam 3 kali coba sedangkan diri ini harus berjuang mati-matian membanting tulang, menguras keringat, kehilangan suara dan menahan perihnya tenggorokan agar mampu lulus dalam ujian tiup.

Aku mengenalnya saat ia mengambil praktikum di Laboratorium Elektronika Daya Jurusan Elektro Fakultas Teknik Unhas. Ia berbadan besar lebih besar dariku, tingginya melebihi tinggiku, putihnya tak dapat dibandingkan denganku dan aku tak seberuntung dirinya.

Parasnya yang indah meluluhkan hati kaum hawa yang melihatnya, mereka akan larut dalam pesona paras wajahnya hingga bidadari pun tak kuasa menahan rasa, tak kuasa menahan gejolak di dada dan bidadari pun akan rela meninggalkan tempat mereka bertahta hanya untuk bersama pria ini…sungguh memikat hati.

Ketika ia berjalan bunga- bunga akan bermekaran berharap sang andika dapat mampir tuk melihatnya dan memetiknya, sungguh wanita itu bodoh jika ia tidak ingin menjadi kekasihnya.

Dia manusia yang sempurna, apa pun yang kau cari ada pada dirinya, jika kau menginginkan cinta maka ia punya selaksa cinta untukmu, jika kau mengiginkan kasih maka ia punya begitu banyak kasih untukmu dan jika kau menginginkan kekasih dengan cinta maka ia adalah kekasih berlumur cinta, sungguh aku tak pantas disandingkan dengan dirinya.

Dan satu hal yang aku tahu tentang dirinya “dia sungguh NARSIS”…

Jeanny

COWOK – COWOK ADAMI MAKANAN”, suara ini terdengar dari luar rumahku, menggelegar di udara melebihi Guntur. Sunyi malam kala itu sirna, jangkrik berhenti bernyannyi, angin berhenti berdendang, cahaya kunang-kunang meredup dan suara itu bergemah diseluruh penjuru Old Camp. Suara ini datang dari rumah sebelah (singkarak 4), ku mengarahkan wajahku menuju jendala kamar. Dari kejauhan malam kumelihat tiga sosok wanita, mataku tertuju pada salah satu diantara mereka, ia adalah jeany sevnsky lighte. Ia seorang yang berdarah campuran entah bagaimana menjelaskan silsilah kedarahannya aku juga pusing yang jelasnya ia seorang wanita berdarah ambon. Rambutnya ikal namun ia buat lurus, membuatnya terlihat lebih menarik, lebih mengembang, lebih tebal tampa menggunakan conditioner sekalipun tapi jangan skali-kali kau memegang rambutnya karna kau tak akan mampu membedakan rambutnya dengan sapu ijuk J. Tiap pagi ia akan mengikat rambutnnya seakan ekor kuda melekat di kepalanya dan poninya ia buat ke samping hingga wajahnya yang kemilau terlihat dengan jelas dan anugrah terindah bersemayam diwajahya.

Di ujung jalan buton suara jeany hadir disela-sela rerumputan, hadir dari segala arah terbawa angin malam yang dingin. Suaranya yang sopran terdengar ditelingaku jauh maupun dekat intonasinya tetap sama, keras, menggelegar memecah gendang telinga. Ku langkahkan kaki menuju tempat tujuanku, berusaha menutup telinga seakan tak tahu apa pun namun vibrato, resonansi dan pharasering dari suara jeany tetap mengusik, aku harap dapat menemukan tunel volume di pita suaranya.

Wanita inilah yang paling sering mengganggu Dewanti, Dewanti yang polos hanya mampu diam mendengar gempuran kata-kata dari jeany dan membalasnya dengan senyuman. Mulut dan lidahnya berkaleborasi dalam kesatuan yang utuh memebentuk suatu ikatan kovalen koordinasi dimana ion-ion dari lidah dan mulut saling bergantung satu dengan yang lain sehingga ikatan ini begitu mudah mengeluarkan kata demi kata yang tak pantas di dengar.

Jika aku dapat jujur inilah nama yang paling sulit aku hafalkan, nama yang terdiri dari beberapa huruf konsonan yang saling bertemu membuat lidahku tak mampu berkata-kata. “Bagaimana cara menyebut nama ini ?” pikirku dalam hati dan yang paling mengagetkan jiwa adalah ketika kutahu bahwa dia adalah seorang muslim.

Jeanny pada dasarnya adalah seorang wanita yang mendambakan kasih sayang dan perhatian yang lebih dari seseorang namun sebisa mungkin ia menutupi kenyataan itu, kenyataan bahwa ia hanya seorang manusia biasa dan seorang wanita biasa yang membutuhkan tempat tuk mencurahkan segala resah didada.  Ia berusaha bersikap tegar, berusaha mengahadapi segala persoalan kehidupannya yang pahit seorang diri. Aku dapat mengerti mengapa ia seperti ini, masa lalu yang kelam adalah alasan mengapa ia harus membenci dan mengapa ia tak ingin dikasihani.

Masih segar diingatanku saat ia bercerita tentang ayahnya, ayah yang ia cintai dan ayah yang ia dambakan. Ia membutuhkan sosok seorang ayah yang slalu hadir dalam kegundahannya dan mendambakan sosok seorang ayah yang bisa melindunginya, menjaganya dan mendidiknya namun apa yang selama ini yang ia harapkan tidaklah sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan. Sosok ayah yang ia dambakan tidak ia temukan malah justru rasa benci yang ia dapatkan. Aku tak ingin bercerita banyak tentang hal ini karna hal ini adalah milik jeany seutuhnya dan bukan milikku, aku hanya diberi kesempatan tuk mengetahuinya melalui dirinya namun satu hal yang aku lihat dari sosok seorang jeany bahwa “ orang yang ia dambakan adaalah orang yang ia benci ”.

Acara rafting kala itu yang diadakan oleh OneVale – PTI mengikut sertakan seluruh peserta coops onevale kecuali Dewanti karna larangan orang tuanya, Velahyati dan Hartati karna acara sarjana mereka. Senyum hadir disetiap wajah undangan terutama diwajah jeany,sejak berangkat hingga pulang senyum itu tak pernah luntur. Rasa kagum perlahan diungkapkan tatkala ia menatap kekuasaan Tuhan yang menciptakan segala sesuatunya begitu indah dan sempurna, apalah daya manusia ini.

Kapal kami kini berhenti di dekat sebuah pulau mungil, penduduk sini menamakannya pulau kucing. Aku bisa mendengar suara air yang memecah secara sequence, seketika danau ini penuh dengan manusia yang haus dengan liburan. Suara kebahagian perlahan menduduki angin hanya kegembiraan yang terdengar di telingaku kala itu.

Matahari telah berada diatas kepalaku, panasnya mulai membakar kulitku. Aku duduk dibawah kain biru berusaha tuk berteduh, kunikamti makananku yang aku sebut sari laut. Ku menoleh kearah jeany, sebuah botol bir dalam genggamannya. Ia teguk menuman itu perlahan – lahan, aku dapat merasakan betapa ia menikmatinya laksana tanah tandus yang menantikan air, membasahi, memberikan kesegaran yang tiada terkira.

Tampa rasa bersalah ia lanjutkan tegukannya, sesekali ia akan tersenyum kemudian ia melanjutkan meminumnya. Tak setetes pun ia menyisakan, apa yang merasukinya ?

Aku tak tahu alasan ia melakukannya ?, apakah itu adalah sebuah kebiasaan ?.

Dalam hati aku kecewa padanya, ia menghapus kekagumaku dalam sekejap tapi itulah dirinya tak ada yang mampu merubahnya kecuali dirinya sendiri. Namun satu hal yang aku ingat dari jeany, ia pernah membuatkanku telur dadar bercampur sayur. Buatannya itu menghipnotis lidahku, menaklukkan lidahku, itu dalah telur dadar yang paling nikmat selama diri ini bersama dengan kalian di tanah soroako.

———————————————————————————–

 

 

Efraim Masarrang

“Paing”, begitu aku memanggilnya seorang pemuda yang selalu merasa dirinya cakep, manis dan sok keren, entah bagaimana ku harus memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya tapi yang membuatku merasa aneh bahwa ia memiliki banyak pacar.

Aku tak tahu siapa nama wanita idamannya itu, ia pernah memberitahuku tapi namanya tak melekat dimemoriku. Maafkan aku paing aku tak mampu mengingat nama kekasihmu namun yang aku tahu adalah ia lebih tua dua tahun dari paing.

Malam itu handphone-nya berdering, ini adalah panggilan kerinduan dari pujaan hati sang kekasih. Paing yang telah terlelap bangkit dari tidurnya hanya tuk menjawab kerinduan itu. Kata “ sayang “ keluar dari mulutnya tuk menyapa sang pujaan hati, telingaku terusik dibuatnya. Kata itu kembali terdengar ditelingaku, lagi …lagi … lagi… dan lagi …  paing menghujani kekasihnya dengan kata sayang yang entah apa maksud sebenarnya, mereka kini larut dalam tali cinta tanpa ikatan, rasa rindu didada serasa terobati tatkala suara sang kekasih terdengar ditelinga. “ndak ji sayang”, paing berusaha membujuk, tampaknya rasa cemburu kini merasuki hati sang wanita seakan taakut kehilangan kekasih tersayang. “iya, sayang”, paing kembali mengiyakan, aku tak tahu perjanjian apa yang ia buat namun yang pasti perbincangan mereka sungguh membuatku sulit tuk tertidur.

Intonasi suara paing kini lebih tinggi, kata sayang tak lagi terdengar seesekali paing menyahut sebagai tanda bahwa ia masih setia mendengarkan. Romantisme pembicaraan tak lagi ada seakan rumah tangga yang bahagia ditimpa bencana dan masalah, tak ada yang mau mengalah dan tak ada yang ingin mengawali tuk memintaa maaf. Paing menutup teleponnya seketika sunyi kembali menyelimuti, akhirnya pembicaraan dua sejoli ini berakhir syukurku dalam hati. Penderitaanku berlanjut ke malam selanjutnya, pertengkaran dua insan ini belum berakhir pada session pertama kemarin malah berlanjut malam ini di session dua. Masalah besar tampaknya menghantui hubungan mereka, ku hanya diam menutup mata seolah tak tahu apa-apa biarlah mereka mengatasi masalah mereka sendiri karna ku tahu paing sudah cukup dewasa tuk dapat mengambil keputusan.

Hari itu ku menerima email dari Pak Kenny dan seperti biasa ku bersiap untuk pekerjaan baru namun ketika melihat tittle-nya diri ini terdiam hanya mataku yang tak berhenti tuk membaca, jiwa ini menyimpan sejuta-tanya dan kepalaku berusaha berfikir apa maksud dari email ini.

Seketika Awa menjawab email itu dan Aku masih terdiam dalam ketidak-tahuanku, didalam emailnya awa menuliskan keinginannya agar dapat memberikan gitar untuk adik tersayang kemudian disusul email dari anjun dan Efraim.

 Seluruh email yang masuk membuat Kenny bingung tuk memberikan gitar ini kepada siapa, dahinya mengkerut mencari jalan keluar yang tepat. Bingung, bimbang dan ragu melanda jiwanya, Ia kini resah mencari jalan keluar. Matanya terpejam berusaha menghilangkan segala beban di pikiran, perlahan ia dapat merasakan udara dingin dari AC yang meraba kulitnya. Suara kalbu membisikkan hati memaksa jantung memompa darah lebih cepat ke otak, ia terpikirkan satu cara maka bergegaslah kenny membalas email kami.


Mengundi adalah jalan terbaik untuk memberikan gitar ini dan dengan cara ini pula tak  akan ada yang merasa di anak tirikan. Kenny percaya jika gitar ini telah ditakdirkan kepada salah soerang diantara kami maka itu adalah untukmu, rejekimu tak akan lari darimu.

Rasa bingung yang melanda Kenny kini hinggap di seluruh pundak anak-anak tester, Nur Awaliah  Yusran, Andi Triska, Efraim Masarrang, Andi Juniawan dan aku dihimpit kesulitan dalam memilih angka dan berusah menebak angka keberuntungan itu. Entah alasan apa yang ada dibenak Nur Awalaiah Yusran, ia mengirim email yang berisikan angka “5” disusul oleh Andi Triska “11” kemudian Anjun “3”, Efraim memilih angka “10” dan andika memilih angka “7”.

Andi Triska Muliana adalah sekutu bagiku dalam undian, perjanjian antara aku dan dia terjalin. Jika ia berhasil menebak atau menghampiri angka itu maka gitar akan diberikan padaku tapi dengan syarat aku harus memainkan gitar itu untuknya, syarat yang tak sulit bagiku maka kuputuskan untuk menerima tawarannya.

Persekutuan diri dan Andi Triska membuat Peluangku kini lebih besar dari anak-anak yang lain maka kufocuskan kembali untuk memilih angka keberuntungan itu. Iqra datang menghampiri meja kerjaku, ia datang menambah kebingunganku menjelaskan suatu teori yang haya dimengerti oleh dirinya sendiri. Konsep pemetaan dan peluang ia jelaskan padaku dengan membagi angka itu kedalam dua wilayah kerja, anngka 1 – 10 digolongkan kedalam wilayah 1 dan 11 – 20 digolongkan kedalam wilayah 2.

Huruf “X” menandakan angka yang telah terpilih dimana sebagian besar berada pada wilayah 1 maka kuputuskan untuk memilih angka yang berada di wilayah 2. Iqra kembali bersuara kali ini konsep aritmatika yang masih membingungkannya ia jelaskan padaku, penjelasannya yang panjang lebar menambah kebingungan. Iqra terdiam kemudian ia lanjutkan dengan teori logika biner yang membagi kedalam two complement dimana angka 15 adalah titik center-nya. Triska memilih angka “11” pada complement satu dengan kata lain peluangku untuk daerah ini telah tertanam sehingga kuputuskan untuk memilih angka didaerah complement dua yaitu antara angka 16 sampai 20.

Terdiam sejenak berusah memilih angka yang telah kupilah-pilah, kepala ini terus berfikir lebih keras dan akhirnya angka “17” menjadi tambatan hatiku.

“Sungguh jika ia memang jodohmu maka ia takkan kemana dan jika ia diciptakan untukmu tak satu pun yang dapat menghalanginya”, Pak Kenny memberikan kesempatan untuk merubah angka tapi kami tetap pada kokohnya pendirian kecuali paing. Efraim seketika mengacungkan tangannya dan merubah angka sebelumnya menjadi “13”, angka keramaat namun menbawa keberuntungan bagi seorang Efraim.

Inilah awal runtuhnya teori sakral seorang Iqra Aswad, teori pemisahan dan pemetaan secara logis yang menganut system aritmatika dengan pola sequence dimana “beda” tiap angka sudah jelas namun rasio kegagalan yang tak mampu ditepis.

Kebahagian melanda Efraim tatkala gitar pak Kenny adalah miliknya, kebahagian yang tak terkira. Senyum lebar di wajahnya tak mampu ia hentikan membuat ia lupa bagaimana cara tuk bersedih, ia cium gitar barunya itu dihadapan kami tampa rasa malu sedikitpun karna rasa bahagia telah menutupi rasa malu-nya.

 

Efraim adalah tipikal lelaki yang tak mampu menyimpan uang, karakternya 11 – 12 dengan Andi Triska tapi jelas cha adalah “12”, apa pun yang menarik hatinya akan ia beli tanpa ada prioritas utama. Ia pernah berkata padaku “gunakan uangmu selagi itu masih ada”, prinsip dasar kehidupannya yang ia pegang teguh.

————————————————————————–

Amaliyah Wahyuni

Wanita yang berparas manis ini sedang dilanda asmara  yang berkepanjangan, wajar saja selama disoroako ia belum pernah bertemu dengan kekasih hatinya, kekasih yang selama ini hadir untuk menemani hari-harinya. Perasaan itu ia pendam dalam-dalam mencoba bersabar tuk tak bertemu dengan pujaan hati.  Tiap hari , tiap detik, tiap waktu dan setiap saat ia akan merindukannya, mencoba menahan hasrat yang bergejolak di dada.

Hati wanita sedalam lautan yang mampu menyimpan perasaan cintanya dengan rapi tanpa seorang pun yang tahu”, kata yang masih erat melekat dalam pikiranku dan Sebuah kata yang aku pungut dalam episodeku yang lalu.

Jikalau boleh aku katakan wanita itu lebih rumit dari bilangan kompleks yang tak mampu aku jabarkan kedalam bilangan real dan bilangan imajiner. Bilangan real tak mampu menggambarkan seberapa banyak curahan hati yang terlihat dan bilangan imajiner tak mampu mendeskripsikan luapan hati yang bergejolak di sanubarinya, hanya wanita itu sendiri yang mengetahuinya. Wanita memandang dari sudut emosionalnya karna logikanya tak bekerja, ia takkan taklut hanya karna kau banyak menolong atau banyak membantu tapi seberapa mampu kau menguasai emosionalnya dan jangan kau paksa ia tuk jatuh cinta padamu karna ini adalah masalah hati yang sepenuhnya dikuasai oleh emosi jiwa.

Cinta hanyalah buih yang mudah terombang ambing di lautan,

tak tau arah dan tak punya tujuan…..

tidak ada cinta yang bisa di realisasikan dalam kehidupan yang hakiki..

yang ada hanyalah mimpi yang tak akan pernah terwujud,

meskipun dengan mengorbankan setengah jiwa,

dan meskipun harus mengorbankan separuh nyawa.

 

Wanita……..hanyalah manusia, seperti halnya diri ini.

Dia manusia yang pasti dan tentunya di sempurnakan oleh kekurangannya.

Dia hanyalah manusia yang di penuhi dengan naluri yang di tentukan

dan telah menjadi fitrahnya.

Dia hanyalah manusia yang tidak akan pernah bisa menghilangkan apa yang telah di kodratkan dan di takdirkan padanya sebagai seorang wanita.

 

Bagaimana pun halnya, wanita ada bukan untuk di PUJA,

Sebab pujaan hanya akan membuat di lupa dan lalai akan kekurangan yang ada padanya,

Diapun ada bukan untuk di sanjung,

Sebab hal itu hanya akan membuatnya jadi menusia pemimpi yang tertidur di angan tanpa dasar,

DAN

MENGAPA WANITA MESTI ADA DALAM HATImu….????

Kita kembali pada sosok Amaliyah Wahyuni.

Iqra pernah menuliskan pendapatnya padaku mengenai wanita ini dan itu cukup menggambarkan dengan jelas bagaimana perangai dari seorang Amaliyah Wahyuni. Dalam suratnya iqra berkata padaku : “Kak Mili adalah Seorang wanita yang terkadang berlagak dewasa dan menjungjung tinggi culture .. Entahlah mungkin karena apa atau kenapa. Pada awalnya sosok ini mirip dengan sosok malaikat kematian yang memiliki mata yang sangat tajam yang seolah-olah ingin mencabut nyawa setiap orang”.

Kali ini aku sepakat dengan adinda Iqra.

Kerinduan tak tertahankan lagi, rindu telah merasuk disetiap darah seorang Syila. Ia tak mampu lagi bersabar maka ia memutuskan menyusul cintanya ke tanah soroako. Pagi itu tampa sepengetahuan mili sang pujaan hati hadir di kota ini. Entah bagaimana syila menemukan alamat rumah tapi itulah kekuatan cinta, kekuatan sebuah hasrat yang bergejolak dijiwa karna jika hasrat tak terpenuhi maka akan meresahkan jiwa dan kini syila hadir dihadapan mili membawa segudang cinta kasih yang tak terbatas.

Dua hati telah bertemu dan rindu telah terobati serasa raga ini tak ingin berpisah jauh dari sang kekasih, itulah yang Mili rasakan dan kebahagiaan tak henti-hentinya datang kepundak dua sejoli ini. Mili duduk disamping kekasihnya disofa ruang tamu pria, ia ingin menemani kekasihnya tuk bercanda gurau dan melepaskan seluruh rasa rindu yang selama ini ia pendam. Malam itu serasa seluruh sumba hanya milik mereka berdua, keberadaan kami dibutakan oleh cinta, meyahutpun kau tak akan dipeduli. Terlalu banyak kisah yang harus mereka ceritakan dan terlalu banyak rindu yang harus ia curahkan sungguh mereka telah dimabuk cinta. Kantuk mengusik kebersamaan mereka, mata mili kini terasa berat tuk terbuka. Ia baringkan kepalanya dalam kehangatan cinta yang syila miliki,  tertidur diatas paha sang kekasih serasa bantal yang dipenuhi kesejukan yang tak terbatas membawanya terbang dalam khayalannya.

Dalam tidurnya, ia melihat Syila menuliskan bait demi bait sebagai ungkapan cinta yang ia pendam selama ini di dalam dinding hatinya yang akan selalu ada dan tatkala mili terbangun kata-kata inilah yang akan menjadi penyemangat kehidupan baginya.

Pertama kali bayangmu jatuh tepat di focus hatiku

Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum

Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa

Cinta dari ku kepadamu Mili lebih besar dari bilangan avogadro…

 

Walau jarak kita bagai matahari dan pluto saat aphelium,

Amplitudo gelombang hati ku berinteraksi dengan hati seorang Mili melalui Skype,

Seindah gerak harmonik sempurna tampa gaya pemulih,

Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas…

……( karya Rusmadi Ali “logat dewa” )……

Dan saat itu Cinta menyelimuti raganya ( asiiik…skali).

 

Ada satu hal yang saya tidak mengerti dari wanita ini,  ia selalu merubah nama seorang sesuai keinginan hatinya entah dari mana ia mendapatkannya, padahal nama itu telah mengorbankan 2 kambing.

 

—————————————————————————

 

Andi Velahyati

Wanita ini lahir di Surabaya pada tanggal 14 Juni 1988, tanggal yang sama denga kelahiran Amaliyah wahyuni namun ditahun yang berbeda. Ia berkulit hitam manis sama halnya dengan Mili, warna kulit meraka mirip membuatku berfikir bahwa apabila anak kalian lahir di tanggal 14 juni maka hasilnya sama dengan dua orang ini…..(hehehe..).

Vely, begini aku menyapanya. Ia seorang pecinta korea mulai dari musik , style sampe movie-nya. Ia sebenarnya berharap dilahirkan di korea namun kenyataan tak dapat dipungkiri karna ia terlahirkan sebagai indonesian dan jika ia terlahir di korea maka lain lagi ceritanya.

Wanita ini berperangai santun, tenang dan murah senyum tapi satu hal yang masih mengganjal dipikiranku bahwa dia itu anak pecinta alam “MAPALA”, wanita dengan karakter seperti ini menjadi anggota dalam organisasi yang membutuhkan mental baja, ohhh…rasanya aku tak percaya.

Vely se-team dengan Iqra dan mereka berdua duduk bersampingan denganku ( sebelum triska menggantikannya ). Vely sangat akrab dengan iqra, sakin akrabnya kau akan mendengar mereka bertengkar tiap hari entah apa masalahnya pokoknya ada saja bahan yang bisa dijadikan masalah tapi jika dibandingkan dengan triska, iqra jauh lebih akrab dengan triska bayangkan saja mereka tidak bertengkar tiap hari melainkan tiap saat, tiap detik, tiap ada waktu pokoknya iqra-triska lebih rame. Jika kalian ingin tahu lebih jauh tentang vely, tanyakan saja ke iqra karna iqra sangat paham betul dengan karakter wanita yang satu ini.

Pertengkaran itu kembali lagi, suara iqra kini terdengar lebih keras, wajahnya dipenuhi degan kebingungan, tetesan keringat terlihat dari wajahnya. Vely dengan wajah kesalnya menjauh dari iqra, ia tak ingin melihat iqra entah apa yang terjadi diantara mereka berdua. Vely duduk terdiam, wajahnya menunduk tampaknya masalah berat kini hinggap dipundaknya. Ia menggoyangkan kursinya ke kiri – ke kanan sesekali ia mengadah ke atas melihat langit-langit kantor. Iqra masih dalam lamunan berusaha mencari formula yang cocok untuk membujuk sang senior, vely berdiri dari tempat duduknya tampaknya ia telah menemukan sesuatu kemudian ia berjalan menuju iqra dan duduk disamping iqra.

Suaranya kini lebih pelan, ia menjelaskan kembali masalahnya ke iqra sambil memohon sesuatu namun iqra tetap menjawab dengan intonasi yang keras. Bujukan sang senior tak mampu menaklukkan hati sang junior, kini ia sangat kecewa, sedih dan marah berusaha ia pendam dan tiba-tiba saja ia merengek didepan iqra. Ternyata anak mapala yang satu ini bisa merengek juga, ia seperti seorang anak yang meminta uang kepada ibunya. Pertunjukan itu membuatku ingin tertawa tak pernah kubayangkan bahwa aku akan melihat wanita dibalik jaket tengkorak teknik  merengek meminta sesuatu. Bagaimana pun bentuknya, berapa pun umurnya dan apa pun jabatannya pada dasarnya ia tetaplah seorang wanita yang butuh kasih sayang.

Sekarang aku tahu masalah apa yang mereka pertengkarkan, iqra yang telah lama merencanakan pulang ke makassar terusik oleh kabar dari vely yang ingin pulang tuk menghadiri acara wisudawan dan sementara itu iqra tidak mungkin membatalkan keinginannya tuk pulang ke makassar. Entah bagiamana ia meluruskan masalah ini, kebijakan apa yang mereka ambil aku tak ingin ikut campur karna kutak punya hak akan itu namun aku bangga dapat melihat toga berada di kepala mu vely.

Ada satu hal yang aku ingat dari perkataan iqra tentang vely “ Dia adalah sosok yang sangat menyukai serial cantik, suka kucing, tidak jelas apakah pernah mendaki atau belum, dan lain sebagainya, hahaha……………  Oh satu hal lagi, dia SUKA MARAH

——————————————————————————————–

 

Bagus Sarwono

 

Keturunan jawa yang berdomisili di sulawesi. Ia pendek, warna kullitnya mirip denganku. Dari caranya berpakaian maka Ciri karyawan kantoran ada pada anak ini cuman kurang dasi tapi itu tidak masalah yang penting inner-beauty_nya dapat bro.

Tiap-tiap manusia memiliki pola pikir tersendiri begitu pula dengan bagus yang terkadang aku pun tak mengerti tapi pada dasarnya anak ini baik. Ia sedikit narsis dengan wajahnya yang cakep dan manis walaupun biasa-biasa saja ndak ada yang istimewa kok….(hehhe..).

Ada satu hal yang aku kagumi dari dirinya, ia sangat mudah mencari kenalan, teman ataupun sahabat. Sikapnya yang mudah bergaul, loyal, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan rajin update status membuatnya mudah diterima dimana pun.

——————————————————————————————————————

Begitu banyak kisah yang tidak dapat aku ukir dalam cerita ini.

Tapi akan selalu terukir dalam sanubariku.

Setiap raut wajah kalian ( Awa, Dewa, Susan, Cha, Jeany, Tati, Vely, Mili, Dila, Iqra, Anjun, Realyn, Paing, Bagus dan Dika) akan aku ingat dan kusimpan rapi dalam buku hatiku yang bersampul kasih sayang. Kehilangan satu dari 16 tak akan merubah segalanya tapi kehilangan 15 dari 16 akan terasa begitu berat.

Hari ini adalah hari akhir dari episodeku kali ini dan apa yang telah aku lakukan ditempat ini hanyalah fase yang pasti akan terlewatkan, dan fase itupun hanya akan menjadi kisah di tahun-tahun yang akan datang, dan hanya akan menjadi cerita yang di warnai oleh kata,

meski saat itu sangat mengiris hati…..

Sungguh aku bukanlah pujangga jemawa, bertahta tetutur dan berselempang sutra sastrawi demi sanjungan tuan pemikat puan. Semesta gubahanku sekedar lukisan hati, palagan isak, berang, bahagia, lara nan pedar berjalin girang ceria menjelmakan tinta selaksa warna dunia. Sungguh bilamana kata telah terjalin, itu hanyalah aku, tak coba menyabur durja durjana sebab paras jiwa belaka terpentas padamu. Jika saja cita tiada mengena, tak mengapa hina dan cela sebab itulah adanya aku.

Sungguh aku tak mampu mengucap kata pamit pada kalian,

Mulut ini tak mampu berkata-kata,

Hati ini tak mampu menahan haru,

Kaki ini tak mampu melangkah,

Tangan ini tak mampu menyalami,

Hanya air mata yang tergores dipipi.

Bagaimana mungkin

Mentari berkabung dalam selimut gelap

Sedang tak satupun angin bersenandung

Ratap perih menggema dalam kotak sunyi berduri

Ingin pergi

Ingin lalui

Namun tak satupun kuda hendak bergeming

Hanya diam

Tak bicara….

Perpisahan adalah sebuah kepastian

Waktu berjalan tak bisa kumundurkan

Berjalan pelan tak bisa ku majukan

Kematian adalah keniscayaan

Tak dapat kutolak, tatkala ia datang

Tak dapat kuminta , tatkala hidup ini bosan…

Bahagia dan derita adalah dua sisi dari koin yang sama,

tapi aku tak berani mengundi diri,

semua kemungkinan terbuka, seperti pintu terbuka bagi perpisahan ini.

4 bulan sudah selalu bersama dalam suasana senang dan duka, satu sama lain saling mengisi berbagi kebahagiaan dan derita. Dalam 4 bulan kita berkumpul banyak kelakuan yang kadang kurang disuka mari kita saling maaf mengurai simpul, kita berpisah dalam suasana hati lega.

Aku tahu terlalu banyak dosa yang aku goreskan pada kalian, banyak kata yang melukai hati kalian dan banyak tindakan yang membuat kalian benci baik itu saya sengaja maupun yang tak saya sengaja, aku hanya pria biasa yang tak luput dari kesalahan.

Di akhir tulisanku ini , aku memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala sesuatu yang telah aku lakukan. Moga kalian dapat memaafkan pemuda yang hina ini.

Ketika Hidup Memberiku Seratus Alasan Untuk Menangis, Kalian Datang Membawa Seribu Alasan Untuk Tersenyum.

Jika Aku Bisa Jadi Bagian Dari DiriKalian, Aku Mau Jadi Airmata Kalian, Yang Tersimpan Di Hati kalian, Lahir Dari Mata Kalian, Hidup Di Pipi Kalian, Dan Mati Di Bibir Kalian.

Orang Bilang Bulan Itu Indah…Tapi Aku Bilang Tidak.

Orang Bilang Planet Venus Itu Cantik…Tapi Menurut Aku Tidak.

Aku Bilang Bumi Itu Indah Dan Cantik…Karena Ada Kalian.

Dan jika bukan karena Kalian,

Saya tidak akan ada di sini!
Makasih atas segalanya…

Dari seorang pemuda yang tak pantas tuk dikenang.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: